Tubaba – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, memperkuat langkah antisipasi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak melalui peningkatan surveilans, percepatan imunisasi, serta edukasi kepada masyarakat. Hingga saat ini, penyebaran campak di Tubaba masih terkendali dan belum menunjukkan adanya penularan luas.
Kepala Dinas Kesehatan Tubaba Majril melalui Sekretaris Dinkes, Eka Riana, didampingi Kepala Subbagian Umum, Kehumasan, dan Hukum, Juleni Santika, mengatakan kasus campak yang ditemukan selama 2026 masih bersifat sporadis. Dari sejumlah laporan kasus suspek, sebagian besar hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan negatif.
“Sepanjang tahun 2026 baru terdapat satu kasus positif campak yang terjadi pada Februari di Kecamatan Tumijajar, wilayah kerja Puskesmas Margodadi. Pasien merupakan bayi berusia 11 bulan dan kini telah sembuh,” kata Eka, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, tidak ditemukan penularan lanjutan pada kontak erat pasien. Meski demikian, Dinkes tetap meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat pemantauan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurut Eka, meningkatnya laporan suspek campak sejak Februari 2026 sejalan dengan penguatan sistem deteksi dini yang dilakukan secara nasional. Seluruh kasus yang dicurigai segera dilaporkan dan disertai pengiriman spesimen untuk pemeriksaan laboratorium guna memastikan diagnosis.
Untuk mencegah potensi KLB, Dinkes Tubaba terus mengoptimalkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), mempercepat pelaporan kasus dari rumah sakit dalam waktu kurang dari 24 jam, melakukan penyelidikan epidemiologi, serta pelacakan kontak erat.
Selain itu, penguatan imunisasi rutin dan pelaksanaan sweeping atau kejar imunisasi bagi anak yang belum memperoleh imunisasi lengkap terus digencarkan. Edukasi kepada masyarakat juga dilakukan melalui penyuluhan langsung maupun media sosial guna meningkatkan kesadaran pentingnya imunisasi.
Dinkes memastikan stok vaksin campak di Tubaba dalam kondisi aman dan mencukupi. Vaksin didistribusikan secara bertahap dari pemerintah pusat hingga seluruh puskesmas, dengan sasaran bayi usia 9–12 bulan, baduta usia 18–24 bulan, anak sekolah dasar, serta anak yang belum memperoleh imunisasi lengkap.
Meski cakupan imunisasi Measles-Rubella (MR) di Tubaba telah melampaui 95 persen, masih terdapat sejumlah tiyuh yang belum mencapai target. Kondisi tersebut dipengaruhi faktor akses wilayah, keraguan orang tua terhadap imunisasi, minimnya edukasi, hingga tingginya mobilitas penduduk.
Dinkes mengimbau masyarakat untuk melengkapi imunisasi anak, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala campak seperti demam disertai ruam, serta menghindari kontak dengan penderita.
“Campak dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, radang otak, kebutaan hingga kematian, terutama pada balita, jika tidak ditangani dengan baik,” ujar Eka.
Ia menegaskan, Dinkes Tubaba akan terus memperkuat cakupan imunisasi rutin, meningkatkan sistem kewaspadaan dini, serta memperluas edukasi kepada masyarakat sebagai langkah mencegah terjadinya KLB campak.
“Secara umum kondisi masih terkendali, namun kewaspadaan harus tetap dijaga. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah penyebaran campak,” pungkasnya.













